Anunya Kamu

anunyakamu.jpg

Ini stiker hadiah dari pemilik label yang merilis album “Anunya Kamu” Sersan Prambors (Prambanan, Borobudur dan sekitarnya, nama-naman jalan di daerah Menteng, Jakarta Pusat). Kalau tidak salah, album dirilis pada sekitar tahun 1985. Mungkin dulu tak seorang pun menyangka bahwa salah satu anggota Sersan Prambors bakal jadi anggota DPR.

Dulu, waktu belum zamannya CD apalagi DVD, ada yang namanya kaset lawak. Kelompok pelawak (bolehkah disebut begini?) pun bukan sekadar melontarkan lelucon, tapi juga bernyanyi dan kadang menyisipkan kritik di dalamnya. Mengungkapkan ketidakpuasan memang tidak harus selalu sambil mengerutkan dahi atau menarik urat leher.

Menurut saya, melawak membutuhkan keahlian khusus. Tidak semua orang bisa membuat orang lain tertawa, apalagi tanpa menertawakan orang lain. Kalau lawak tergolong sebagai seni, tentu bukanlah seni yang mengawang-awang, mengasingkan pelaku dari pemirsa. Pelawak bukan seniman yang suka berasyik-mesra dengan diri sendiri, tapi selalu mencari umpan balik dari pemirsa. Dengan begitulah lawak bisa berkembang dan memberi sumbangan pada kehidupan, bahkan mencerahkan. Pada dasarnya, semua manusia ingin berkarya karena hati kecilnya menyimpan tujuan mulia, bukan?

Posted in selebritas | Tagged , , | Leave a comment

alumni sipil baca koran, eh, denah

alumni-sipil-ui.jpg

Saya mendapatkan stiker ini di UI tahun ’93 – ’94, tapi lupa dalam acara apa. Kalau tidak salah semacam reuni. Pembuat stiker ini menggambarkan alumni teknik sipil sebagai orang berhelm proyek, berdasi (berjas juga?) dan memegang lembaran cetak biru dari denah pondasi, denah lantai, atau bisa juga mereka sebetulnya sedang membaca koran. Itulah potret klasik tentang insinyur sipil, yang kerap tampil di iklan-iklan. Sejak awal kuliah, konon insinyur sipil sudah diwanti-wanti. “Kalau ada bangunan indah, yang dipuji pasti arsiteknya. Tapi, kalau gedung runtuh, yang dicaci-maki pasti insinyur sipilnya.” Nasib, lah. Bila setelah lulus ternyata para tukang insinyur sipil ini jadi pegawai bank, eksportir garmen, manajer perusahaan kosmetik, reporter, penerjemah, pengusaha MLM atau bahkan koordinator demo, mungkin itu salah satu bukti bahwa pendidikan ekstrakurikulum lebih efektif buat mereka :P

Posted in almamater | Tagged , , , | 2 Comments

Sarapan Kedua

engran-sarapankedua.jpg

Produk ini adalah suplemen paling tersohor pada tahun ’80-an. Produk multivitamin lain, kalaupun ada, belum banyak bermunculan seperti sekarang. Kebanyakan orang hanya mengenal Engran. Almarhum kakek dan almarhumah nenek saya termasuk konsumen setia kapsul merah ini. Mereka meminumnya sekali setiap hari, setelah sarapan, persis petunjuk iklan. Saya lupa, stiker ini saya peroleh dari mana. Bisa jadi ini bonus yang dilampirkan di kardus kemasan.

Posted in kesehatan, obat | Tagged | 3 Comments

Idola dalam Stiker

genesis.JPG

Pada pertengahan tahun 1980-an, ada permainan yang namanya Album Stiker Panini. Di toko buku, peminat bisa membeli album stiker kosong yang hanya berisi ruang tempat untuk menempelkan stiker. Ada beberapa jenis album sesuai kategori, misalnya musikus atau satwa. Yang paling menempel di ingatan saya adalah kategori musikus.

Saya lupa, apa imbalan bagi kolektor stiker yang bisa melengkapi album dengan stiker-stiker yang dijual terpisah itu. Koleksi saya cuma sedikit, karena uang jajan memang terbatas. Untuk menempelkannya di album pun rasanya sayang sekali. Akhirnya stiker-stiker Panini para idola itu saya gabungkan dengan koleksi stiker lain yang kebanyakan bertemakan tokoh kartun :D .

paul-young.JPG

Posted in selebritas | Tagged , , , | Leave a comment

Sekolah Tinggi BMW

bmw.jpg

Stiker ini mengingatkan saya pada tempelan merek pada botol kecap atau jamu seduh. Konon, kampus tenar ini punya singkatan lain : BMW, alias Binstitut Meknologi Wandung. Saya menemukan stiker ini sewaktu berkunjung ke kampus ITB belasan tahun yang lalu. Konon, desain unik ini juga ada kaosnya, tapi saya tidak punya. Ada yang mau menyumbang? :D

Posted in almamater | Tagged | 1 Comment

“Es Budi”

woody.jpg

Entah apakah anak-anak zaman sekarang mengenal es krim Woody. Di Bogor pada awal tahun 1980-an, penjaja es krim berjalan kaki melewati rumah demi rumah sambil berteriak “Es Woody!” Nama “Woody” yang diambil dari tokoh kartun “Woody Woodpecker” kadang terdengar sebagai “Budi” di telinga. Itu sebabnya, banyak anak-anak termasuk saya dan teman sepermainan, menyebut es krim ini “Es Budi”. Lagi pula, nama-nama paling populer saat itu adalah Budi, Wati dan Iwan. Nama-nama di buku pelajaran bahasa Indonesia untuk sekolah dasar.

Soal rasa es krim, pilihannya belum begitu beragam seperti sekarang. Kalau bukan vanila, stroberi atau cokelat, paling banter moka atau durian. Es krim rasa permen karet atau mint belum ada (belum terpikirkan? :P ). Sedangkan, saingan es krim keliling antara lain es puter (alias es doto atau es nongnong), es cendol atau es doger. Saat itu, es krim dianggap sebagai pilihan jajan mewah dan istimewa. Kalau tidak salah, seumur hidup hanya sekali saja saya tidak berselera makan es krim, yaitu setelah operasi amandel. Padahal, es krim Woody sengaja disediakan untuk mempercepat pengeringan luka kerongkongan pascaoperasi. Es krim meleleh terbiarkan di dalam termos, dan akhirnya dihabiskan oleh para orang dewasa yang menunggui saya di rumah sakit.. :D

Posted in makanan, minuman | Tagged , | 1 Comment

Selamat Datang di dagdigdug

Selamat Datang di dagdigdug.com. Ini posting pertamamu , Ekspresikan perasaanmu. Ngebloglah sekarang juga !

Posted in Uncategorized | 1 Comment