Ini stiker hadiah dari pemilik label yang merilis album “Anunya Kamu” Sersan Prambors (Prambanan, Borobudur dan sekitarnya, nama-naman jalan di daerah Menteng, Jakarta Pusat). Kalau tidak salah, album dirilis pada sekitar tahun 1985. Mungkin dulu tak seorang pun menyangka bahwa salah satu anggota Sersan Prambors bakal jadi anggota DPR.
Dulu, waktu belum zamannya CD apalagi DVD, ada yang namanya kaset lawak. Kelompok pelawak (bolehkah disebut begini?) pun bukan sekadar melontarkan lelucon, tapi juga bernyanyi dan kadang menyisipkan kritik di dalamnya. Mengungkapkan ketidakpuasan memang tidak harus selalu sambil mengerutkan dahi atau menarik urat leher.
Menurut saya, melawak membutuhkan keahlian khusus. Tidak semua orang bisa membuat orang lain tertawa, apalagi tanpa menertawakan orang lain. Kalau lawak tergolong sebagai seni, tentu bukanlah seni yang mengawang-awang, mengasingkan pelaku dari pemirsa. Pelawak bukan seniman yang suka berasyik-mesra dengan diri sendiri, tapi selalu mencari umpan balik dari pemirsa. Dengan begitulah lawak bisa berkembang dan memberi sumbangan pada kehidupan, bahkan mencerahkan. Pada dasarnya, semua manusia ingin berkarya karena hati kecilnya menyimpan tujuan mulia, bukan?




